BPOM Selidiki Kasus Keracunan Makanan MBG di Kupang, 140 Siswa Dirawat


  • Jumat, 25 Juli 2025 | 16:30
  • | News
 BPOM Selidiki Kasus Keracunan Makanan MBG di Kupang, 140 Siswa Dirawat Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar. (Antaranews)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyelidiki penyelidikan kasus keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang menyebabkan lebih dari 140 siswa SMP mengalami gangguan kesehatan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar, mengatakan bahwa laboratorium BPOM Kupang tengah meneliti sampel makanan dari 10 sekolah yang dilayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Sebanyak 10 sekolah itulah yang kami selidiki. Laboratorium kami sedang bekerja untuk memastikan apa tujuannya. Hasilnya akan kami sampaikan setelah selesai," ujar Taruna di Jakarta, Jumat.

Ia menyebutkan bahwa MBG merupakan program yang perlu dikawal habis-habisan, dan kejadian luar biasa (KLB) tersebut perlu dicari penyebabnya agar dapat dicegah di kemudian hari.

"Saya kira ada beberapa faktor yang bisa kita lihat. Tapi kita akan umumkan nanti, bukan saatnya sekarang," kata Taruna dikutip Antara .

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), memastikan penanganan medis optimal bagi 140-an siswa SMPN 8 Kupang yang mengalami gangguan kesehatan karena diduga keracunan makanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Yang paling utama sekarang adalah keselamatan anak-anak kita. Jangan dulu sibuk mencari siapa yang salah, siapa yang benar, sementara anak-anak sedang butuh pertolongan medis. Mereka butuh infus, butuh stabilisasi. Itu yang paling penting saat ini," kata Wali Kota Kupang Christian Widodo di Kupang, Rabu (23/7).

Anak-anak yang mengalami gangguan kesehatan tersebut dirawat di tiga rumah sakit terdekat, antara lain RSUD SK Lerik, RSU Mamami, dan RS Siloam. Adapun gangguan kesehatan berupa diare dan muntah-muntah.

Wali Kota Kupang melakukan peninjauan secara langsung terhadap para siswa di sejumlah rumah sakit tersebut.

Meski situasi terpantau mulai membaik, katanya, proses penanganan medis dan pemulihan harus berjalan optimal terlebih dahulu, baru dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

Terkait sumber makanan, ia mengakui belum menerima laporan resmi. Namun, ia memastikan akan segera meminta data lengkap dan bila perlu memanggil pihak-pihak terkait untuk klarifikasi dan evaluasi.*

 

 

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru