Alasan Indonesia Gabung BoP: Strategi Prabowo Dorong Kemerdekaan Palestina


 Alasan Indonesia Gabung BoP: Strategi Prabowo Dorong Kemerdekaan Palestina Presiden Prabowo Subianto (kiri) berdiskusi dengan beberapa jurnalis senior, ekonom, dan pengamat di kediaman pribadi Presiden RI, Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (17/3/2026). ANTARA/HO-Badan Komunikasi Pemerintah RI.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Keputusan Indonesia bergabung dalam Dewan Perdamaian dunia atau Board of Peace (BoP) bukan langkah spontan. Presiden Prabowo Subianto menegaskan, keputusan ini diambil melalui pertimbangan matang dengan satu tujuan utama: memperkuat perjuangan kemerdekaan Palestina.

Dalam diskusi bersama pakar dan jurnalis senior di Hambalang, Bogor, Prabowo membuka cerita di balik langkah strategis tersebut. Ia menekankan bahwa Indonesia memilih jalur yang lebih realistis—yakni terlibat langsung dalam forum global—agar dapat memengaruhi arah kebijakan internasional.

Dari PBB ke Diplomasi Global

Semua bermula saat Prabowo menyampaikan pidato di Sidang Umum PBB pada 23 September. Dalam pidatonya, ia kembali menegaskan komitmen Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina melalui solusi dua negara (two-state solution).

Tak lama setelah itu, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir—diundang Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas rencana perdamaian Gaza.

Dalam pertemuan tersebut, AS menawarkan proposal “21-point plan” yang diklaim sebagai langkah menuju perdamaian jangka panjang. Proposal ini dipaparkan langsung oleh utusan khusus AS, Steve Witkoff.

Poin Kunci yang Menarik Indonesia

Dari 21 poin yang ditawarkan, Prabowo menaruh perhatian pada dua poin penting: peluang Palestina menjadi negara merdeka dan jaminan dialog damai antara Palestina dan Israel.

Menurutnya, meski peluang tersebut belum sempurna, tetap ada ruang untuk diperjuangkan.

“Di poin 19 dan 20 ada peluang, walaupun kecil. Tapi ini bisa jadi pintu masuk,” ungkap Prabowo.

Kesamaan visi ini membuat Indonesia bersama negara-negara Muslim lainnya sepakat untuk mendukung rencana tersebut—dengan catatan tetap kritis terhadap implementasinya.

Lahirnya BoP dan Keputusan Strategis

Pasca pertemuan itu, muncul gagasan pembentukan Board of Peace (BoP) yang kemudian diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.

Negara-negara yang tergabung dalam Group of Eight pun kembali berdiskusi: apakah lebih baik berada di dalam sistem atau di luar?

Hasilnya jelas—bergabung dinilai sebagai langkah paling strategis.

“Kalau kita di dalam, kita bisa memengaruhi. Kalau di luar, kita tidak punya kekuatan,” tegas Prabowo.

Bagi Indonesia, kehadiran di dalam BoP membuka peluang untuk memperjuangkan kepentingan Palestina secara lebih konkret, bukan sekadar simbolis.

Tetap Kritis, Siap Keluar Jika Tak Sejalan

Meski bergabung, Indonesia tidak akan bersikap pasif. Prabowo menegaskan bahwa Indonesia siap keluar dari BoP jika forum tersebut tidak lagi memberikan manfaat bagi perjuangan Palestina atau bertentangan dengan kepentingan nasional.

“Kalau kita lihat tidak ada harapan atau justru kontraproduktif, kita akan keluar,” ujarnya dikutip dari Antara.

Sikap ini menunjukkan bahwa Indonesia tetap memegang prinsip bebas aktif—terlibat, tetapi tidak terikat.

Komitmen Lama, Strategi Baru

Langkah bergabung ke BoP bukan perubahan arah, melainkan strategi baru dari komitmen lama Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

Sejak dulu, Indonesia konsisten berdiri di barisan negara yang membela hak rakyat Palestina. Kini, pendekatannya lebih taktis: masuk ke dalam sistem untuk mendorong perubahan dari dalam.

Prabowo pun berharap langkah ini dapat memberi dampak nyata bagi terciptanya perdamaian jangka panjang di Palestina.

 

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Politik Terbaru