Selasa, 27 Januari 2026

Pertemuan Trump dan Zelenskyy di Vatikan: Awal Baru atau akan Menjadi Sekadar Simbolisme?


 Pertemuan Trump dan Zelenskyy di Vatikan: Awal Baru atau akan Menjadi Sekadar Simbolisme? Pertemuan Trump dan Zelenskyy di Vatikan. (Kompas)

Oleh

Rama Daru Jati: Pemerhati Hubungan Internasional dan 

Prasetia Anugrah Pratama: Magister Hubungan Internasional, Universitas Paramadina & Master of Public Policy & Management, Monash University Indonesia

---------

PERTEMUAN Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy di tengah aula St. Peter’s Basilica, Sabtu, 26 April 2025, menjadi momen simbolik. Pertemuan tersebut menjadi sorotan karena diadakan beberapa menit sebelum pemakaman Paus Fransiskus.

Dua kursi disediakan untuk Presiden Trump dan Presiden Zelenskyy, sementara kursi ketiga diletakkan di ujung aula. Ada spekulasi bahwa kursi tersebut ditujukan untuk Presiden Prancis Emmanuel Macron, namun seorang sumber yang memahami dinamika pertemuan menjelaskan bahwa kursi ketiga itu ditujukan untuk penerjemah.

Spekulasi itu muncul karena Macron adalah salah satu pemimpin negara yang mendorong dialog antara AS dan Ukraina. Namun, ketika tiba waktunya untuk duduk bersama, Macron justru meninggalkan ruangan setelah berbincang singkat dengan Trump, lalu membiarkan Trump berbincang berdua bersama Zelenskyy.

Setelah pertemuan,  Trump menyatakan kepada pers bahwa Zelenskyy kembali meminta pasokan senjata yang lebih besar, sebuah permintaan yang tidak mengejutkan bagi Trump, kemudian secara singkat mengangkat isu Crimea – Semenanjung yang diambil alih oleh Rusia di tahun 2014, dan AS berencana mengakui Rusia di semenanjung tersebut di bawah proposal perjanjian terkait penghentian perang.

“Saya tidak tahu bagaimana bisa Anda membawa isu Crimea,” kata Trump sehari setelah pertemuannya dengan Presiden Zelenskyy.

“Itu isu yang sudah lama.” Lanjutnya.

Setelah Trump naik menjadi presiden AS, dia telah mengajukan sebuah proposal perjanjian yang mendeklarasikan pengakuan AS terhadap pengambilalihan Rusia terhadap Crimea. Meskipun, hal tersebut masih menjadi sebuah proposal yang belum disahkan, namun tentu sudah menciptakan kekhawatiran, khususnya bagi Ukraina.

Proposal Trump tersebut tentu akan menimbulkan banyak penolakan baik secara domestik maupun internasional, menimbang proposal tersebut akan memutarbalikkan perlawanan AS selama satu dekade terhadap pengambilalihan secara paksa yang dilakukan oleh Rusia.

Sebelumnya, Trump sendiri tidak menghiraukan pendapat dari Presiden Zelenskyy terhadap proposal yang diajukannya tersebut. “Tidak ada yang meminta Zelenskyy untuk mengakui Crimea sebagai teritori Rusia,” tulisnya.

Meskipun proposal yang diajukan oleh Trump terlihat sangat berpihak kepada Rusia, setelah pertemuan Zelenskyy di pemakaman Paus Fransiskus,  Trump sendiri mulai mempertanyakan keinginan Vladimir Putin untuk mencapai perdamaian dengan Ukraina. Di sebuah postingan Truth Social ketika kembali setelah pertemuan di Roma, Trump mengisyaratkan kemungkinan sanksi tambahan melalui sektor perbankan jika Rusia terus menolak kompromi.

“Tidak ada alasan bagi Putin untuk menembakan misil ke wilayah sipil, perkotaan dan pedesaan, selama beberapa hari ini,” tulis Trump.

“Hal tersebut membuatku berpikir bahwa mungkin dia (Putin) tidak ingin menghentikan perang, dia hanya mempermainkanku selama ini, dan harus ditangani dengan berbeda, melalui ‘Perbankan’ atau ‘Sanski Sekunder?’ Terlalu banyak orang yang tewas!”

Pertemuan Trump dan  Zelenskyy menandai pertama kalinya kedua pemimpin negara tersebut bertatap muka sejak insiden Februari 2025, ketika  Trump secara terbuka mencela Zelenskyy karena dianggap “tidak cukup berterima kasih” atas bantuan AS, yang berujung pada pemberhentian sementara pengiriman senjata dan intelijen.

Ketegangan historis ini membuat pertemuan di Vatikan menjadi sebuah harapan untuk membuka kembali diplomasi antara AS dan Ukraina di tengah konflik perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung hingga saat ini.

Terlepas dari pertemuan yang terlihat begitu intim itu, rasanya terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa Trump akan sepenuhnya mendukung Ukraina. Proposal perdamaian Trump untuk mengakui Crimea sebagai teritori Rusia hingga tulisan ini dibuat masih menjadi sebuah pertimbangan. Trump pun tidak menunjukkan itikad untuk mencabut pengajuan proposal tersebut.

Zelenskyy perlu menahan diri agar tidak merasa puas terlebih dahulu. Tanpa adanya rencana konkret untuk mengakhiri perang Rusia dengan Ukraina, maka hanya tinggal menunggu waktu saja hingga AS merasa jenuh untuk memberikan bantuan terhadap Ukraina seperti yang terjadi sebelumnya.

Sedangkan di sisi lain, Trump tidak dapat dengan mudahnya mendeklarasikan sebuah pengakuan bahwa Crimea merupakan teritori Rusia. Hal tersebut akan melanggar aturan internasional juga akan bertentangan dengan berbagai deklarasi dan perjanjian yang telah dibuat oleh AS sebelumnya. Lebih buruk lagi, jika proposal Trump benar akan disahkan, maka akan membuat  perpecahan yang semakin luas antara Eropa dan AS di North Atlantic Treaty Organization (NATO).

Masih terlalu cepat untuk menyimpulkan bahwa AS akan mendukung Ukraina secara penuh. Meskipun pertemuan tersebut cukup untuk membuat Trump mempertanyakan kembali keinginan Putin untuk menghentikan perang. Namun, pertemuan tersebut belum cukup untuk membawa Trump berpihak ke Ukraina sepenuhnya.

Pintu diplomasi antara AS dan Ukraina mulai terbuka namun masih banyak hal yang perlu diperjuangkan agar diplomasi kedua negara tersebut berjalan dengan baik, jika terdapat salah langkah di dalam prosesnya, tidak menutup kemungkinan pintu diplomasi tersebut akan tertutup kembali.

 

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Suara Kita Terbaru