Selasa, 04 Agustus 2026

Prabowo Ungkap: "Pemikiran Ekonomi Saya Dibentuk oleh Sosialisme dan Kapitalisme ala Sumitro Djojohadikusumo"


 Prabowo Ungkap: Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Pemimpin Utama Grup Forbes, Steve Forbes (kanan) berdialog dalam sesi puncak Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta, Rabu (15/10/2025). ANTARA/HO-BPMI Sekretariat Presiden.

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Presiden Prabowo Subianto mengungkap bahwa arah pemikiran ekonominya banyak dipengaruhi oleh sang ayah, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, yang dikenal sebagai salah satu begawan ekonomi Indonesia. Hal itu disampaikan Prabowo saat berbicara di sesi puncak Forbes Global CEO Conference 2025 di Jakarta, Rabu (15/10/2025) malam.

Dalam sesi dialog bertajuk “A Meeting of Minds” bersama Pimpinan Utama Forbes, Steve Forbes, Prabowo menceritakan bahwa pandangan ekonominya dibentuk oleh perjalanan intelektual panjang keluarganya—mulai dari sang kakek Margono Djojohadikusumo, hingga ayahnya, Sumitro, yang dikenal berjiwa anti-kolonial dan anti-imperial.

“Ayah saya belajar ekonomi di Belanda sekitar tahun 1940-an, ketika Indonesia masih berjuang untuk merdeka. Saat itu, banyak elite Asia dan Afrika berpandangan sosialis karena Sosialisme, bahkan Marxisme, dianggap sebagai gerakan anti-kolonialisme dan anti-imperialisme,” ujar Prabowo.

Menurutnya, Sumitro Djojohadikusumo di masa mudanya adalah seorang sosialis dan sempat memimpin Partai Sosialis Indonesia. Namun, pandangan itu kemudian berkembang seiring pengalamannya saat ditugaskan ke Markas PBB di New York, Amerika Serikat.

Di negeri Paman Sam, Sumitro banyak berinteraksi dengan para ekonom dan pebisnis yang berpandangan kapitalis—namun dengan semangat yang sama: menentang imperialisme dan memperjuangkan kemerdekaan.

“Amerika waktu itu berada di garda depan untuk mendorong dekolonisasi. Ayah saya banyak bersahabat dengan tokoh-tokoh bisnis di AS yang justru membantu perjuangan Indonesia,” tambah Prabowo.

Dari pengalaman itulah, lanjut Prabowo, ayahnya kemudian menyimpulkan bahwa tidak ada sistem ekonomi tunggal yang ideal. Sosialisme dan Kapitalisme masing-masing memiliki nilai positif yang bisa disinergikan.

“Saya masih ingat, waktu muda saya pernah bertanya, ‘Apa sistem ekonomi terbaik untuk Indonesia?’ Ayah menjawab, sistem terbaik adalah ekonomi campuran—ambil yang terbaik dari Sosialisme dan Kapitalisme,” tutur Prabowo mengenang.

Pandangan itu pula yang kini menjadi dasar pemikiran ekonomi Prabowo sebagai Presiden. Menurutnya, di era globalisasi dan disrupsi seperti sekarang, sulit bagi suatu negara untuk hanya berpegang pada satu sistem ekonomi.

“Kita harus mencari sistem terbaik yang bekerja untuk negara kita,” tegasnya di hadapan lebih dari 400 CEO dan pemimpin bisnis dunia dikutip Antara.

Tentang Forbes Global CEO Conference 2025

Konferensi internasional bergengsi ini pertama kali digelar Forbes pada 2001 di Singapura, dan tahun ini kembali diselenggarakan di Jakarta pada 14–15 Oktober 2025.

Acara tersebut menghadirkan sejumlah tokoh bisnis dan inovator terkemuka dari berbagai negara. Dari Indonesia, hadir di antaranya:

  • Rosan P. Roeslani (Menteri Investasi & CEO Danantara)
  • Anindya Bakrie (Ketua Umum Kadin Indonesia)
  • Pandu Sjahrir (CIO Danantara)
  • Otto Toto Sugiri (Direktur Utama DCI Indonesia)
  • Shinta Kamdani (Ketua Umum Apindo)
  • Belinda Tanoto (Managing Director Tanoto Foundation)
  • Axton Salim (Executive Director Salim Group)
  • Angela Tanoesoedibjo (Co-CEO MNC Group)

Pernyataan Presiden Prabowo di Forbes Global CEO Conference 2025 menunjukkan akar pemikiran ekonominya yang berpijak pada warisan intelektual keluarga Djojohadikusumo: memadukan nilai keadilan sosial dari Sosialisme dan efisiensi pasar dari Kapitalisme, demi membangun sistem ekonomi Indonesia yang inklusif dan berkeadilan.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru