Suasana diskusi bertajuk Kelas Menengah Indonesia di Persimpangan, di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (4/6/2026). (ANTARA/HO-Kadin)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Namun, untuk mewujudkannya, Indonesia perlu memperkuat sektor ekonomi yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi dan menghasilkan produk bernilai tambah lebih besar.
Hal tersebut disampaikan Co-Founder & Executive Director Kadin Indonesia Institute, Mulya Amri. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi yang tidak kalah dibandingkan negara-negara yang selama ini mampu mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi secara konsisten, seperti Vietnam dan India.
"Kita bisa melihat Vietnam dan India. Pertumbuhan ekonomi 8 persen bagi mereka sudah menjadi hal yang biasa dan terjadi hampir setiap tahun. Indonesia juga memiliki peluang yang sama. Tidak ada alasan kita tertinggal dari kedua negara tersebut," ujar Mulya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis (4/6/2026).
Untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi, Kadin Indonesia Institute secara rutin menggelar forum diskusi bertajuk "8% Club". Forum ini menjadi ruang bertukar gagasan mengenai strategi percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam beberapa tahun mendatang.
Menurut Mulya, salah satu tantangan terbesar Indonesia saat ini adalah masih dominannya ekspor berbasis bahan mentah atau produk dengan nilai tambah relatif rendah. Kondisi tersebut membuat potensi ekonomi nasional belum berkembang secara optimal.
Karena itu, Indonesia perlu mendorong lahirnya lebih banyak sektor industri dan produk yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi. Produk-produk tersebut tidak hanya memberikan nilai ekonomi yang lebih besar, tetapi juga membutuhkan pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang lebih maju.
Dalam konsep ekonomi modern, kompleksitas ekonomi menggambarkan kemampuan suatu negara menghasilkan beragam produk yang unik dan sulit diproduksi oleh negara lain. Semakin beragam dan semakin unik produk ekspor yang dihasilkan, maka semakin tinggi pula tingkat kompleksitas ekonominya.
Baca juga:
Komisi XI DPR Dorong APBN 2027 Berpihak pada Kelas Menengah, Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi NasionalMulya menilai pengembangan ekonomi berkompleksitas tinggi juga akan berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja berkualitas. Selain itu, langkah tersebut dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja dan memperkuat posisi kelas menengah sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 8 persen pada 2029. Target tersebut menjadi lompatan signifikan dibandingkan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan berada di kisaran 5,11 persen pada 2025.
Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Ferry Irawan, mengatakan penguatan kelas menengah menjadi salah satu strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Menurut Ferry, kelompok kelas menengah memiliki kontribusi besar terhadap konsumsi rumah tangga, produktivitas tenaga kerja, serta aktivitas ekonomi nasional secara keseluruhan.
Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan bahwa kelompok kelas menengah dan calon kelas menengah saat ini mencapai sekitar 66,35 persen dari total populasi Indonesia atau sekitar 185,35 juta jiwa. Besarnya jumlah tersebut menjadikan kelompok ini sebagai tulang punggung daya beli masyarakat sekaligus penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Dengan memperkuat sektor industri bernilai tambah tinggi dan meningkatkan kapasitas kelas menengah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, inklusif, dan berkelanjutan dalam beberapa tahun mendatang.