Kamis, 22 Januari 2026

Omset Turun Drastis, UKM Kupang Minta Tarif Bagasi Ditinjau


 Omset Turun Drastis, UKM Kupang Minta Tarif Bagasi Ditinjau Salah satu jenis usaha Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Kupang, NTT. (Ayoukm.com)

KUPANG, ARAHKITA.COM - Pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur meminta pemerintah pusat meninjau kembali penghapusan fasilitas bagasi gratis bagi penumpang pesawat udara karena berdampak pada penurunan omset usaha pelaku usaha kecil di ibu kota provinsi berasis kepulauan ini.

"Sejak ada kebijakan penghapusan fasilitas bagasi gratis omset kami turun drastis, sehingga kami berharap kebijakan itu ditinjau kembali untuk daerah-daerah seperti NTT yang pembangunan ekonomi kecil masih bertumbuh," kata pimpian UKM Setia Kawan, Kota Kupang, Dortia Mbura Wake ketika ditemui Antara di Kupang, Minggu (31/3/2019).

Wake mengatakan hal itu terkait dampak kebijakan penghapusan fasilitas bagasi gratis terhadap usaha kecil menengah di Nusa Tenggara Timur.

Menurut dia, omset usaha para UKM di Kota Kupang semakin menurun setelah adanya kebijakan penghapusan bagasi gratis bagi penumpang pesawat udara karena permintaan jajajan makanan oleh-oleh semakin berkurang.

Menurut dia, permintaan berbagai anek makanan jajanan khas NTT melalui usaha UKM Setia Kawan sebelumnya sangat banyak namun sejak tiga bulan terakhir mengalami penurunan drastis sebagai dampak dari penghapusan fasilitas bagasi gratis yang mulai diberlakukan awal tahun 2019 itu.

Ia mengatakan pendapatan bersih sebelum ada kebijakan penghapusan fasilitas bagasi gratis setiap bulan mencapai Rp3 juta lebih.

"Pendapatan kami saat ini turun drastis karena permintaan makanan jajanan untuk oleh-oleh semakin berkurang. Setiap bulan hanya bisa untuk makan," kata Wake.

Ia berharap pemerintah pusat dapat meninjau kembali aturan itu khusus untuk daerah tertentu seperti NTT karena dampaknya sangat dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) yang baru mulai mengeluti usaha makanan jajasan khas NTT.

 

 

 

 

 

Editor : Patricia Aurelia

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Ekonomi Terbaru