Wakil Asisten Menteri Luar Negeri (Asmenlu) AS bidang Bantuan Keamanan Kawasan, dan Diplomasi Publik di Biro Asia Timur dan Pasifik Robert Koepcke menyampaikan kata sambutan dalam Diskusi Kebijakan Ruang Siber Amerika Serikat dan Indonesia 2026. (ANTARA/HO-Kedubes AS Jakarta)
JAKARTA, ARAHKITA.COM – Di tengah meningkatnya penipuan daring dan kejahatan siber lintas negara, Amerika Serikat menegaskan komitmennya untuk memperkuat kerja sama strategis dengan Indonesia di bidang kebijakan siber, khususnya di kawasan Indo-Pasifik yang kian dinamis.
Komitmen tersebut disampaikan Wakil Asisten Menteri Luar Negeri AS bidang Bantuan Keamanan Kawasan dan Diplomasi Publik, Robert Koepcke, dalam Diskusi Kebijakan Ruang Siber Amerika Serikat–Indonesia yang digelar di Jakarta, Rabu (29/1/2026).
Menurut Koepcke, kolaborasi siber kedua negara bukan sekadar respons atas ancaman digital yang berkembang cepat, tetapi juga mencerminkan kepentingan bersama untuk menjaga stabilitas dan keamanan siber regional. Ia menilai Indonesia sebagai mitra kunci dalam membangun ketahanan siber di kawasan Indo-Pasifik.
Sejalan dengan itu, Kuasa Usaha Ad Interim Kedutaan Besar AS di Jakarta, Peter Haymond, menyoroti kuatnya fondasi kemitraan siber bilateral yang telah terbangun selama beberapa tahun terakhir. Di tengah maraknya ransomware, penipuan daring, hingga serangan siber lintas batas, kerja sama ini dinilai semakin relevan.
“Ancaman siber tidak hanya merugikan individu, tetapi juga berdampak langsung pada perekonomian. Dengan bekerja bersama, kita bisa membangun pertahanan yang lebih solid untuk melindungi warga dan kemakmuran ekonomi,” ujar Haymond.
Dalam forum yang sama, Amerika Serikat juga mengumumkan tambahan bantuan siber untuk Indonesia. Dengan tambahan tersebut, total dukungan AS di bidang keamanan siber mencapai 10 juta dolar AS atau sekitar Rp167,3 miliar.
Bantuan ini merupakan bagian dari implementasi Nota Kesepahaman Keamanan Siber kedua negara sekaligus mendukung Kemitraan Strategis Komprehensif, termasuk Rencana Aksi Keamanan Siber yang telah disepakati sebelumnya dikutip Antara.
Ke depan, para ahli dari perusahaan keamanan siber asal AS akan terlibat langsung dalam pelatihan aparatur pemerintah Indonesia, sekaligus menyediakan perangkat dan teknologi untuk menghadapi serangan siber serta aktivitas berbahaya yang melibatkan aktor asing.
Amerika Serikat menilai, penguatan perlindungan infrastruktur vital Indonesia juga berperan penting dalam memitigasi risiko terhadap rantai pasok perdagangan global.
Langkah ini diharapkan dapat melindungi kepentingan masyarakat dan pelaku usaha kedua negara, sekaligus memperkuat stabilitas kawasan Indo-Pasifik secara berkelanjutan.