Loading
Ilustrasi indeks saham Eropa. (Kabarbursa.com)
LONDON, ARAHKITA.COM - Lantai bursa Eropa bersiap menghadapi pembukaan yang kurang bergairah pada perdagangan Jumat ini. Para investor tampak mulai berhati-hati dan "mencerna" berbagai sentimen geopolitik yang kian memanas di berbagai belahan dunia.
Bursa Utama Kompak Memerah
Berdasarkan data terbaru dari IG Group, indeks FTSE 100 Inggris diperkirakan dibuka turun 0,13%. Langkah serupa diikuti oleh DAX Jerman yang merosot 0,4%, sementara CAC Prancis terjebak di zona merah sebesar 0,3%.
Padahal, sehari sebelumnya pasar sempat menikmati "pesta" kecil. Indeks Stoxx 600 ditutup naik 0,6% berkat performa gemilang sektor semikonduktor. Raksasa seperti ASML, ASM International, dan BE Semiconductor sempat melonjak tajam menyusul hasil positif dari produsen chip TSMC. Namun, euforia itu tampaknya harus meredup pagi ini karena sentimen global yang bergeser.
Magnet Greenland dan Proyek Energi
Fokus dunia kini tertuju pada pulau terbesar di dunia: Greenland. Ketegangan meningkat setelah pasukan Eropa tiba di sana pada Kamis malam, menyusul ambisi Donald Trump untuk mengakuisisi atau dianeksasi wilayah tersebut. Meski pertemuan di Gedung Putih belum menghasilkan kesepakatan diplomatik, dialog antara AS, Denmark, dan Greenland dipastikan akan terus berlanjut di tengah ketidakpastian ini sebagaimana dilaporkan Chloe Taylor dan Sam Meredith dari CNBC.com
Di sisi lain, ada kabar baik bagi sektor energi hijau. Equinor baru saja mendapat lampu hijau dari pengadilan AS untuk melanjutkan proyek Empire Wind. Ini menjadi angin segar setelah sebelumnya pemerintahan Trump sempat menghentikan lima proyek pengembangan tenaga angin lepas pantai utama pada akhir tahun lalu.
Minyak dan Emas yang Bergolak
Pasar energi tak luput dari drama. Tindakan keras disertai kekerasan terhadap kerusuhan sipil di Iran, serta respons keras dari Washington terkait tarif dagang, membuat harga minyak mentah bergoyang. Kontrak berjangka minyak mentah Brent terlihat turun 3,44% ke level $63,49 per barel.
Sementara itu, emas dan perak yang sempat menjadi primadona safe haven (aset aman) mulai mengalami koreksi. Meski investor masih khawatir terhadap independensi bank sentral AS (Federal Reserve), harga logam mulia ini terpantau turun tipis di kisaran 0,2% hingga 1,9% pada perdagangan terakhir.