Jumat, 16 Januari 2026

Trump Dikabarkan Siap Serang Iran, AS Mulai Tarik Personel Militer di Timur Tengah


 Trump Dikabarkan Siap Serang Iran, AS Mulai Tarik Personel Militer di Timur Tengah Donald Trump. (Whitehouse)

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dikabarkan siap memerintahkan serangan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan regional dan gelombang protes besar-besaran di negara tersebut. Laporan ini mencuat seiring langkah Amerika Serikat dan Inggris yang menarik personel dari sejumlah pangkalan militer di Timur Tengah.

Trump disebut telah mempertimbangkan tindakan langsung terhadap Iran setelah berminggu-minggu aksi protes yang menuntut berakhirnya rezim Ayatollah. Ia sebelumnya memperingatkan akan ada konsekuensi serius jika demonstran terus menjadi korban kekerasan, di tengah laporan korban tewas yang kini disebut melampaui 2.500 orang.

Situasi semakin memanas setelah Inggris menutup sementara kedutaannya di Teheran. Sejumlah negara Eropa, termasuk Spanyol dan Polandia, juga mengimbau warganya untuk meninggalkan Iran. Pemerintah Iran turut menutup wilayah udaranya bagi seluruh penerbangan, kecuali yang telah mendapat izin khusus dari otoritas penerbangan sipil setempat.

Sumber di Washington, dilansir The Independent, yang dekat dengan pemerintahan AS menyebut kepada media bahwa serangan militer berpotensi dilakukan dalam waktu 24 jam. Trump dikatakan siap mengambil langkah tegas dengan target terbatas untuk melumpuhkan rezim Iran.

Sumber tersebut menyebut salah satu faktor yang dipantau Washington adalah kondisi sistem perbankan Iran yang berada di ambang kehancuran. Jika aliran dana ke Korps Garda Revolusi Islam terganggu, rezim dinilai berisiko runtuh tanpa perlu operasi militer berskala besar. Namun, Trump disebut tidak akan menunggu terlalu lama untuk mengambil keputusan.

Pada Rabu, Amerika Serikat menarik personel dari Pangkalan Udara Al-Udeid di Qatar, pangkalan militer AS terbesar di Timur Tengah yang menampung sekitar 10.000 tentara. Langkah tersebut disebut sebagai tindakan pencegahan menyusul meningkatnya ancaman keamanan regional.

Pejabat militer Barat mengatakan seluruh sinyal menunjukkan potensi serangan AS yang semakin dekat, meski ketidakpastian dinilai sebagai bagian dari strategi pemerintahan Trump. Sejumlah pejabat Eropa dan Israel juga menilai bahwa keputusan intervensi AS hampir diambil, meski waktu dan cakupannya belum sepenuhnya jelas.

Sumber lain menyebut Washington telah menyiapkan skenario pembentukan pemerintahan sementara jika rezim Iran runtuh. Pemerintahan Trump juga dikabarkan telah berkomunikasi dengan penasihat keamanan nasional Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, meski Inggris dipastikan tidak akan terlibat langsung dalam upaya penggulingan rezim Iran.

Di sisi lain, Teheran memperingatkan negara-negara tetangganya bahwa pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan akan menjadi sasaran jika Washington melancarkan serangan. Pemerintah Iran juga disebut meminta negara-negara sekutu AS seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Turki untuk menekan Washington agar tidak melakukan intervensi militer.

Menurut kelompok pemantau hak asasi manusia HRANA yang berbasis di AS, jumlah korban tewas akibat penindakan terhadap demonstrasi di Iran telah mencapai 2.571 orang, dengan lebih dari 18.000 penangkapan. Angka tersebut disebut melampaui korban pada gelombang protes besar sebelumnya pada 2009 dan 2022.

Trump sendiri terus menyuarakan dukungan terhadap para pengunjuk rasa. Melalui platform Truth Social, ia menyatakan bahwa “bantuan sedang dalam perjalanan” dan menegaskan akan mengambil tindakan keras jika Iran mengeksekusi para demonstran.

Editor : Lintang Rowe

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru