Kamis, 05 Februari 2026

Kasus Epstein Kembali Menghangat, Pasangan Clinton Buka Suara di Depan DPR AS


 Kasus Epstein Kembali Menghangat, Pasangan Clinton Buka Suara di Depan DPR AS Bill dan Hillary Clinton menyatakan siap bersaksi di depan Kongres AS terkait penyelidikan kasus Jeffrey Epstein, beberapa hari sebelum pemungutan suara sanksi penghinaan digelar, memicu dinamika politik baru di Washington.(livenowfox.com)

JAKARTA, ARAHKITA.COM – Dinamika politik Amerika Serikat kembali memanas setelah mantan Presiden Bill Clinton dan mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton menyatakan bersedia memberikan kesaksian di hadapan Kongres. Kesediaan itu berkaitan dengan penyelidikan terhadap mendiang Jeffrey Epstein, pelaku kejahatan seksual yang kasusnya mengguncang publik global.

Keputusan tersebut muncul hanya beberapa hari sebelum Kongres berencana melakukan pemungutan suara untuk menentukan apakah pasangan Clinton akan dikenai sanksi penghinaan terhadap lembaga legislatif. Rencana sanksi itu sebelumnya disiapkan karena keduanya dianggap menolak hadir setelah berbulan-bulan terjadi tarik-ulur komunikasi dengan Komite Pengawasan DPR.

Bill Clinton memang diketahui pernah mengenal Epstein. Namun ia berulang kali menegaskan tidak pernah mengetahui aktivitas kriminal yang dilakukan pengusaha kontroversial itu. Clinton juga menyatakan telah memutus hubungan sejak sekitar dua dekade lalu, jauh sebelum kasus Epstein terbongkar ke publik.

Hingga kini belum ada kepastian kapan proses pengambilan keterangan akan berlangsung. Jika benar terlaksana, momen ini akan menjadi peristiwa langka. Terakhir kali mantan presiden AS bersaksi di depan panel Kongres terjadi pada 1983, saat Gerald Ford memberikan keterangan dalam sebuah penyelidikan nasional.

Komite Pengawasan DPR yang kini dikuasai Partai Republik sebelumnya telah menyetujui langkah untuk mendorong sanksi terhadap keluarga Clinton. Menariknya, dukungan juga datang dari sejumlah anggota Partai Demokrat, menandakan bahwa isu ini melampaui sekat politik tradisional.

Kabar kesediaan hadir disampaikan oleh Angel Ureña, wakil kepala staf Clinton, melalui media sosial. Ia menegaskan bahwa pihak Clinton telah bernegosiasi dengan itikad baik sejak awal. Menurutnya, pasangan tersebut bahkan telah memberikan pernyataan bersumpah dan menyerahkan informasi terbatas yang mereka miliki tentang Epstein.

Ureña juga menyindir sikap komite yang dinilai lebih bernuansa politis dibanding mencari kebenaran. Ia menyebut proses pemanggilan ini sarat kepentingan untuk mempermalukan lawan politik, terutama di tengah suhu politik yang memanas menjelang tahun pemilu.

Selama ini tidak ada korban Epstein yang menuduh Bill Clinton terlibat dalam kejahatan seksual. Meski demikian, hubungan masa lalu mereka tetap menjadi sorotan karena sejumlah catatan perjalanan menunjukkan Clinton pernah menggunakan jet pribadi Epstein pada awal 2000-an dikutip bbc.com

Dokumen yang dirilis Departemen Kehakiman AS juga memuat beberapa foto lama yang memperlihatkan kebersamaan Clinton dengan Epstein di kediamannya. Foto-foto itu kembali beredar luas dan memicu perdebatan publik, meski juru bicara Clinton menegaskan bahwa gambar tersebut diambil jauh sebelum kejahatan Epstein terungkap.

Epstein sendiri meninggal di penjara pada 2019 saat menunggu persidangan atas berbagai dakwaan perdagangan manusia dan eksploitasi seksual anak di bawah umur. Sejak itu, banyak nama tokoh berpengaruh ikut terseret dalam pusaran penyelidikan, termasuk politisi, pengusaha, hingga figur dunia hiburan.

Langkah Clinton untuk akhirnya hadir di Kongres diperkirakan akan menjadi babak baru dalam kasus panjang ini. Publik Amerika menunggu apakah kesaksian tersebut benar-benar membuka fakta baru atau justru hanya menjadi panggung pertarungan politik menjelang kontestasi nasional berikutnya.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

Internasional Terbaru