88 Persen Pasien Kanker Paru, Wafat di Tahun yang Sama saat Kanker Ditemukan


 88 Persen Pasien Kanker Paru, Wafat di Tahun yang Sama saat Kanker Ditemukan Kanker paru biasanya tanpa gejaa / Foto ilustrasi: Antara

JAKARTA, ARAHKITA.COM - Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Kanker (RSK) Dharmais, Jakarta dr Mariska Pangaribuan mengatakan 88 persen pasien kanker paru meninggal pada tahun yang sama pada saat kankernya ditemukan.

"Sekitar 88 persen pasien kanker paru yang ditemukan akan meninggal pada tahun yang sama. Kanker paru merupakan penyebab kematian tertinggi pada pasien kanker," katanya dalam diskusi mengenai kanker paru yang diikuti secara daring di Jakarta, Kamis (29/2/2024).

Tingginya angka kematian pada pasien kanker paru, menurut Mariska disebabkan keterlambatan kedatangan pasien untuk berobat. Pasien kanker paru baru berobat setelah berada dalam stadium lanjut. Hal itu terjadi karena jenis kanker yang satu ini tidak menunjukan gejala awal.

"Kalau gejalanya sudah muncul biasanya stadiumnya sudah lanjut atau seringkali malah sel kanker sudah menyebar ke tempat lain yang menyebabkan gejala terlebih dahulu," ucapnya.

Mariska menjelaskan,  prinsip pengobatan kanker disesuaikan dengan tingkat keparahan kanker yang dibagi ke dalam empat stadium. Pada kanker paru stadium satu, ukuran tumor masih relatif kecil dan masih belum melibatkan kelenjar getah bening sehingga masih memiliki kemungkinan sembuh yang tinggi dengan kemungkinan bertahan dalam dua tahun di atas 85 persen, dan kemungkinan bertahan dalam lima tahun di atas 66 persen.

Pada stadium dua, sambungnya, ukuran tumor sudah membesar dan melibatkan kelenjar getah bening yang berada di sekitarnya, dengan kemungkinan bertahan dalam dua tahun di atas 64 persen dan kemungkinan bertahan dalam lima tahun di atas 47 persen.

"Kalau masih stadium satu, dua, sampai tiga A, kita menyebutnya masih stadium D, dan pengobatan bisa sampai optimal. Namun, yang sangat disayangkan, pengalaman kami di Rumah Sakit Kanker Dharmais, pasien itu datang di stadium lanjut. Hampir semuanya datang di stadium empat atau tiga D," ujarnya.

Untuk itu Mariska menganjurkan kepada masyarakat untuk tidak merokok, karena merokok merupakan faktor risiko terbesar dari kanker paru, serta melakukan skrining untuk mengetahui adanya kanker sejak dini agar agar penyakit tersebut bisa disembuhkan.

Hal senada dikemukakan Menkes Budi Gunadi Sadikin. "Pesan saya untuk masyarakat, jangan takut untuk skrining dan periksa kanker," katanya.

Menkes Budi menilai menunda-nunda pemeriksaan kanker justru akan menyebabkan penyakit kanker menjadi semakin parah, semakin kecil peluang kesembuhannya, serta semakin banyak menghabiskan biaya.

Editor : Lintang Rowe

Berita Terkait:


    Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

    Kesehatan Terbaru