Selasa, 10 Februari 2026

HPN 2026: Pers Diperkuat sebagai Penjaga Kebenaran di Tengah Gempuran AI


  • Senin, 09 Februari 2026 | 21:30
  • | News
 HPN 2026: Pers Diperkuat sebagai Penjaga Kebenaran di Tengah Gempuran AI Gubernur Banten, Andra Soni, bersama Ketua PWI Pusat, Akhmad Munir, dalam puncak HPN 2026 di Kota Serang, Banten, Senin (9/2/2026). ANTARA/HO-Pemprov Banten/aa.

SERANG, ARAHKITA.COM – Hari Pers Nasional (HPN) 2026 diproyeksikan menjadi titik penting dalam memperkuat kembali peran pers sebagai penjaga kebenaran dan kepentingan publik, terutama di tengah percepatan kecerdasan artifisial (AI) serta transformasi digital yang kian masif.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Banten Andra Soni pada puncak peringatan HPN 2026 yang berlangsung di Serang, Banten, Senin (9/2/2026). Menurutnya, derasnya arus informasi berbasis algoritma justru membuat jurnalisme semakin dibutuhkan sebagai penjernih realitas.

“Di tengah perkembangan AI dan transformasi digital, pers berperan sebagai penjaga kebenaran, pengurai kompleksitas, dan penentu makna di tengah arus data,” ujar dia.

Andra menilai teknologi memang membawa kemudahan, namun juga menyimpan tantangan serius berupa banjir informasi yang tidak selalu terverifikasi. Karena itu, kecepatan digital harus berjalan seimbang dengan proses cek fakta, etika, dan tanggung jawab jurnalistik.

Ia pun menyampaikan apresiasi kepada insan pers yang selama ini dinilai tetap konsisten mengawal kepentingan masyarakat melalui kerja-kerja profesional di lapangan.

Senada dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar mengingatkan bahwa verifikasi dan etika merupakan garis pembeda paling mendasar antara fakta dan rekayasa informasi di era algoritma.

“Tanpa verifikasi dan etika, informasi bisa menyesatkan. Pers harus menjaga nurani dan tanggung jawab sejarahnya,” ujarnya.

Ketua PWI Pusat Akhmad Munir juga menegaskan bahwa kebebasan pers tidak bisa berdiri sendiri tanpa profesionalisme. Menurutnya, kepatuhan pada kode etik jurnalistik menjadi fondasi agar pers tetap dipercaya publik.

“Pers tidak bekerja di ruang hampa. Ia memikul tanggung jawab publik dan kebangsaan, sehingga akurasi dan etika menjadi hal utama,” katanya dikutip Antara.

Rangkaian HPN 2026 akhirnya menjadi pesan bersama bahwa di tengah perubahan lanskap digital, pers tetap memegang peran vital sebagai pilar demokrasi. Bukan sekadar penyampai informasi, melainkan pengawal kepentingan publik yang memastikan kebenaran tidak tenggelam oleh kebisingan algoritma.

Editor : Farida Denura

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

News Terbaru